Halaman

Selasa, 21 November 2017

PMII dan RAKYAT, koreksi atas massa aksi


Persepsi orang mengenai PMII tentu
berbeda, mulai dari akademisi, elit politik, hingga masyarakat sendiri saling memiliki sudut pandang yang beragam, dengan alasan-alasan tertentu perbedaan itu menyeruak ke permukaan terkait penilaian PMII. Yang lebih menarik dan perlu dijadikan bahan korektif bersama, terletak atas pesepsi yang berkembang di sebagian masyarakat mengenai PMII yang oleh mereka dinilai orang-orang yang senang mencari masalah lewat rangkaian aksi di depan kantor-kantor pemerintah. Demontrasi dinilai buruk, karena ketika aksi serangakaian keributan dengan aparat keamanan rentan bergejolak, juga tak luput dari aksi pembakaran ban, dan sejenisnya beserta pelemparan benda-benda kotor, jorok jika aksi membela rakyat tersebut malah tidak digubris sama sekali oleh pihak terkait. Berangkat dari tindakan yang selalu berujung perusakan properti umum dan merusak lingkungan, penilaian miring akhirnya hinggap dipungung kaum pergerakan, bahwa aksi massa yang mengatasnamakan pembelaannya atas rakyat justru menjadi lelucon  yang serupa dengan preman-preman kesiangan mengemis uang untuk membeli sebatang rokok. Tak berselang lama tentu, berita itu viral melaui mulut ke mulut dan media massa hingga selanjutnya menjadi konsumsi publik, diperperah lagi, oleh sebagian kalangan pula, opini itu terus digiring agar persepsi miring tentang PMII tetap kotor, dengan maksud propagandis.
Dari kasus yang melebar itu, seolah olah persebaran isu bahwa PMII serupa dengan apa yang oleh mereka nilai buruk  adalah sebuah kebenaran. Padahal penilaian itu hanya dilandasi keputusan sepihak yang cenderung menuduh, tanpa menimbang secara proporsional dan objektif. lalu persepsi itu terus menembus ruang-ruang kosong melebar ke pelbagai elemen, beriring isu yang dibuat-buat oleh sebagian oknum yang tak bertanggung jawab. Menanggapi opini buruk tersebut, elit PMII sudah barang tentu merasa sedih jika kian hari berita menjijikkan yang mebuat reputasinya menurun malah dipelintir sebagai ajang pertarungan opini dalam kontestasi politik kampus di masyarakat. PMII dimanapun pasti kecewa jika kemudian  aksi pembelaannya terhadap rakyat ketika di depan gedung-gedung pemerintah justru disalah artikan, yang mestinya perlu mendapat dukungan, bukan justru ocehan-ocehan miring akibat kesalahan memberikan penilaian. Keluar dari lingkaran kesedihan sahabat PMII, penulis merasa perlu mengurai secara kritis dari aksi yang kerap getol didemontrasikan PMII. Jika hanya menelisik pada aspek sepihak bukan jatuh ke surga kebenaran, justru bisa menimbulkan problem baru,  penelusuran lain akan diurai secara objektif terkait latar belakang opini bisa berkembang di masyarakat. Penulis lebih tertarik membahas latar dan sebab akibat yang bersagkutan antara dari sebagian kalangan,terlebih masyarakat, tak ketinggalan juga oleh internal PMII itu sendiri. PMII diletakkan sebagai objek issu tak lain   menjadi sebab mendasar berita miring itu bisa lahir ke permukaan.

Menarik untuk dicermati bahwa selama ini, berita miring yang menjadi konsumsi masyarakat bukan sepenuhnya kesalahan mereka sendiri, bahkan penelusuran dalam tulisan ini justru senarasi dan searus dengan ocehan masyarakat bahwa sumber kesalahan, sebab musabab munculnya kesalah pahaman itu mencuat karena kesalahan PMII itu sendiri. Tentunya, Sejauh penilaian sahabat PMII, mereka menilai bahwa kekeliruan berfikir yang merebak itu ditengarai oleh penilaian sempit yang memandang hanya pada sisi depan saja, sisi depan dilihat sebagian kalangan, lebih-lebih masyarakat(rakyat) sebagai sebuah keburukan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh kaum berpendidikan. penilaian  tersebut tidak seratus pesen keliru, justru problem utama terletak dipundak internal PMII itu juga, dan sejatinya persoalan lain yang tak kalah penting adalah bagaimana konsolidasi massa menjelang aksi bisa terealisir mampu mengikutsertakan pihak-pihak tertentu, sesuai siapa yang jadi target marginaliasi itu, jika aksi demontrasi hendak dilaksanakan memasang tema pembelaan terhadap rakyat. maka menjadi keharusan rekan-rekan PMII juga berjibaku memasang muka bersama masyarakat secara serentak mengahadapi penguasa, dengan ikut sertanya masyarakat akan berujung rasa simpatik yang mendalam dan mempunyai efek besar dari berbegai pihak, sehingga kesan memperjuangkan rakyat benar-benar dirasakan.  satu komando bersama rakyat adalah perpertif klasik yang hari ini mulai luntur, jika dulu, ketika imiprealisme merajalela di nusantara, sebelum kemerdekaan aksi massa kerapkali menyertakan banyak elemen, menyertakan pihak yang justru dimarginalkan oleh pemerintah kolonial. Dalam satu suara, dan satu komando, mereka melancarkan aksi melawan penjajah dilapangan. Hari ini makin tidak nampak demontrasi yang digencarkan berbagai pihak, PMII khusunya menghadapi penguasa bersama rakyat. Mestinya, jika serangkaian demontrasi mau digencarkan, rakyat juga harus diajak partisipatif baik secara langsung ikut aksi ke lapangan, atau paling tidak bisa mensosialisasikan kepada rakyat sebelum demo dilakukan. terkadang PMII terlalu gegabah dalam melncarkan aksi membela rakyat, mereka berjuang pontang-panting hingga bentrok dengan aparat, hanya demi membela rakyat.  Tapi dipihak lain, rakyat yang jadi objek pembelaan PMII justru tidak diberikan kabar , bahkan lebih mirisnya rakyat tidak tahu sama sekali tentang siapa dan untuk apa pembelaan itu dilakukan. sehinga yang terjadi adalah, kepincangan antar kedua belah pihak jadi problem baru, satu sisi PMII harus berjuang sekuat tenaga melawan rezim, sisi lain rakyat tak tahu menahu karena memang tidak tahu. oleh karena itu, berbaur dan merapatkan barisan bersama rakyat merupakan indikasi berjuang yang benar-benar merangkul dan persuasif.  jika cara ini mampu diterapkan, pasti rakyat menilai positif bahkan merasa keberadaanya betul-betul dibela, sudut pandang setelah itu akan berimplikasi terhadap citra PMII sebagai pembela rakyat yang termarginalkan dinilai benar, dan bukan lagi sebagai preman-preman jalanan yang mengemis meminta penghidupan. bahkan tanpa sodoran oknum jahat, wacana miring itu hanya bisa bertahan sekejap dan lekas tergusur oleh persepsi yang sudah memikat hati rakyat. praktis saja, perlahan pamor PMII kembali mentereng menjadi lentera yang menerangi kegelapan.

by: Vilda Cullen (VC)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar