Halaman

Selasa, 21 November 2017

AKU DAN MEREKA



Semilir angin pagi nan sejuk disertai sinar mentari menemani tiga anak musafir mengiring langkah kaki menuju kota Gudeg, Yogyakarta. Ya, tiga musafir itu ialah Agus, Wahyu dan Adi. Mereka pergi ke Jogja demi tujuan mulia, yakni mengais ilmu dengan sahabat dan senior di sana.

Derap langkah kaki tanpa ragu diiringi tekad membara mengantarkan mereka menuju tempat tujuan. Tepat pukul 20.00 WIB, bus patas Surabaya-Yogyakarta meluncur menyusuri jalan raya. Melintas di taman pintar, Yogyakarta sekitar pukul 04.30 WIB. Tak banyak cincong, mereka bertiga seketika itu langsung mencari masjid untuk sholat dan sekedar melepas lelah setelah hampir 12 jam berada di dalam bus dari Madura-Yogyakarta.

Setelah usai sholat subuh, ketiga bocah tadi saling bercengkrama. Ya, mereka membicarakan apa saja, dari hal yang tak realistis hingga nasib masa depan negeri ini pun ikut pula diperbincangkan dalam forum kecil tersebut. Setelah lama terhanyut dalam perbincangan tersebut, mereka memutuskan untuk JJP (Jalan Jalan Pagi) untuk menyambangi toko buku termurah se-Yogyakarta, tepatnya di sebelah utara taman pintar. Maklum, uang saku pas-pasan, Wahyu dan Adi hanya membolak-balik cover buku, biar keliatan “keren” atau paling tidak “kandidat calon ilmuan” masa depan. Berbeda dengan Agus, dia memang sengaja membeli buku untuk bahan diskusi dan menulis karya ilmiahnya.

Setelah puas berkeliling di toko buku, mereka kembali ke masjid tempat mereka rehat tadi, untuk menunggu sahabat lama yang dulu sempat studi di sekolah yang sama. Muiz, begitu nama akrabnya. Setelah bertemu Muiz di masjid tadi, Muiz langsung menggelandang mereka menuju angkrigan (warung makan khas Yogya), untuk mengisi asupan pada cacing di perutnya.
“Assalamu’alaikum, wih... kamarnya rapi banget cak? Calon bojone ayu ki bakale (calon istrinya pasti cantik, nih).” Celetuk Adi.
“’Walaikumsalam, ah, biasa aja, kadang malah ga sempat bersihin. Aaamiin, semoga perkataanmu tadi benar.” Sahut Muiz dengan senyum simpul.
“Oia, cak, sebelumnya kita bertiga minta izin pada sampean kalo merepotkan. Kita nginap di kamar sampean.” Basa-basi Agus untuk memosisikan diri selayaknya tamu.
“oh, tidak apa-apa. Santai saja, sahabat-sahabat madura kalau pas ke Yogya kadang mereka juga menginap di sini. Jadi, tak usah kikuk. Anggap saja kamar sendir. Tapi kamarku adanya cuma segini. Jadi, kalau dirasa kurang pas, mohon dimaklumi.” Sambut Muiz. Mereka pun lekas membersihkan diri dan rehat sebentar sekedar melepas kepenatan, karena nanti malam mereka akan berbincang dan melepas rindu dengan para sahabat di Yogya.
Xxx
Selepas sholat isya, mereka menuju angkringan untuk ngopi bersama sahabat Yogya. Satu persatu berdatangan dan menyambut mereka bertiga dengan hangat.
“Wih..rambut gondrong nih Gus? Makin keliatan aja kalau aktivis kampus.” Sindir hangat Didi kepada Agus.
“hahahha... revolusi, sahabat. Tapi keren kan?” guyon Agus, sambil meniru gaya model profesional memainkan rambutnya.
“Kalau gondrong gini, kau jadi mirip pemain sinetron ga sih?” sahut Didi
“Omar Daniel!” Celetuk Wahyu tiba-tiba. Dan saat itulah derai tawa mereka pecah
Tak terasa malam semakin larut, mereka isi dengan guyonan dan lepas rindu bersama sahabat seperjuangan di Yogya. Dan keesokan harinya, Agus, Wahyu dan Adi diajak keliling Yogya sembari mempererat tali silaturrahmi dengan para sahabat di sana.
“Bagaimana kondisi kota kecilmu, Gus?” Tanya seorang sahabat
“Kota kecilku saat ini darurat agraria, Bat” Jawab Agus serius
“Para investor mulai mengambil alih tanah-tanah di sekitar pesisir kota kami” Tambah Adi
“Untung pacarku tidak ikut diambil alih, bisa brabeh kan kalau itu terjadi. Lagian siapa yang bakal ikut aksi denganku nantinya” celoteh Wahyu yang selalu membuat orang di sekitarnya gemas.
“Sepertinya ada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab yang membantu para infestor itu untuk menguasai kotaku” kata Agus tanpa menghiraukan celoteh Wahyu.
Mereka terhanyut dalam diskusi kecil dalam perjalanan tersebut.
Xxx
Setelah seminggu di Yogya mereka isi dengan diskusi dan temu kangen, hari ini Agus, Wahyu dan Adi memutuskan untuk kembali ke kota kecilnya dan langsung berpamitan kepada sahabat di sana.
“Terima kasih, sahabat. Perjalanan kali ini sungguh memberiku banyak pesan dan suntikan semangat. Semoga kita selalu dalam ikatan persaudaraan ini” Pamit Agus
“Apa lagi sama sahabat Muiz. Sudah ihklas memberi tempat buat kami” tambah Adi
“Terima kasih banyak sahabat, Saya tunggu kalian di kota kecilku” Ujar Wahyu

Salam buat para sahabat di Sumenep, ya...” Sahut Muiz

by: Vilda Cullen (VC)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar