“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda, apabila angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa,” -PramoedyaAnantaToer-
Dewasa ini melihat kembali peranan lembaga-lembaga pendidikan yang kemudian menjadi patner pemerintah untuk mewujudkan apa yang menjadi amanat nasional Apa yang dikatakan Pram– sapaan akrab Pramoedya Ananta Toer- diatas merupakan apresiasi terhadap pemuda khususnya mahasiswa. Mahasiswa memiliki peran penting dalam mengubah sejarah kebangsaan dan perjalanan demokrasi . Kita bisa melihat bagaimana peranan mahasiswa mampu merubah wajah perpolitikan dengan gerakan reformasinya. Jauh ke belakang kita mengenal angkatan gerakan kemahasiswaan dengan segala momentum sejarah kebangsaan ditanah air.
Sejarah telah mencatat, dari mulai munculnya Kebangkitan Nasional hingga tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dalam mengawal demokrasi di Indonesia. Sebut saja gerakan mahasisa pada masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, masa pemberontakan PKI, masa Orde Lama, hingga masa Orde Baru dengan gerakan reformasinya, peran mahasiswa tidak pernah absen dalam catatan peristiwa penting tersebut. Kita kenal pada tahun 1928-1945 yang merupakan gerakan mahasiswa dalam melihat konstalasi politik ditanah air, kemudian pada tahun 1966 kembali lagi mahasiswa sebagai masyarakat memperjuangkan bangsa ini dari persoalan yang menimpa bangsa ini kemudian kita kenal sebagai gerakan angkatan 66, Gerakan ini dikenal dengan istilah angkatan 66, diawali dengan kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, dimana sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan seperti Jong Java, JongSumatra, JongBorneo, dst. Angkatan 66 ini mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten Negara. Dan berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Eksekutifpun beralih dan berpihak kepada rakyat. Peralihan ini menandai berakhirnya Orde Lama berpindah ke Orde Baru. Meski ada sebagian yang mengatakan bahwa gerakan 66 yang anti Soekarno yang saat itu mengakomodir PKI merupakan kegagalan mahasiswa pada saat itu karena ditunggangi kepentingan Soeharto. Namun terlepas dari kepentingan tersebut gerakan ini merupakan gerakan yang merubah sejarah bangsa Indonesia. Gerakan mahasiswa yang terjadi pada tahun 1972 yang kemudian Gerakan ini dikenal dengan terjadinya peristiwa MALARI (Malapetaka Lima Belas Januari). Tahun angkatan gerakan ini menolak produk Jepang dan sinisme terhadap warga keturunan. Tokoh mahasiswa yang mencuat pada gerakan mahasiswa ini seperti Hariman Siregar, sedangkan mahasiswa yang gugur dari peristiwa ini adalah Arif Rahman Hakim. Itulah beberapa bukti sejarah dari peran penting mahasiswa dalam berkhidmat pada memperjuangkan hak hak kemanusiaan. tapi ketika kita melihat dinamika kampus hari ini bahwa telah kita ketahui bersama pula lembaga pendidikan bukan sebagai lembaga pendidik tapi sebagai jalan memperkokoh penindasan,hari ini mahasiswa sudah terkepung dengan sistem kampus yang tidak membangun semangat mahasiswa untuk lebih progresif dan lebih luas cara pandangnya, sistem kampus yang memberikan ketentuan kepada dosen dosen sehingga dosen akan cenderung memberlakukan mahasiswa bukan selayaknya mahasiswa, yang harus dikekang mengikuti prasyarat perkuliahan, kerapian, dst. Tapi secara mental mahasiswa tidak ada karna mereka hanya di bentuk menjadi sarjana sarjana yang berlindung dibelakang selembar kertas tidak punya pemahaman bagaimana mengimplementasikan keilmuan dengan bentuk pengabdian dan karya.
MAHASISWA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Melihat bagaimana peran penting mahasiswa dalam bagaimana mengawal perumusan kebijakan, implementasi kebijakan, dan memahami kondisi masyarakat. Dengan begitu mahasiswa bukan kuliah dan masuk kekelas dan absensi yang semua itu hanya seremonial saja tanpa ada esensi yang jelas, lalu bagaimana dengan tri dharma perguruan tinggi apakah akan hanya sebagai wacana mahasiswa yang potensi simbolis saja. Mahasiswapun yatanggung jawab besar terhadap bagaimana memberdayakan masyarakat tanggung jawab sosial ialah kepekaan mahasiswa terhadap realitas sosial dan memahami kondisi masyarakat sehingga tercipta gerakan mahasiswa sebagai bentuk reaksi dari idealisme yang dimiliki mahasiswa. Ketika mahasiswa sudah mulai nyaman dengan keadaan yang sudah dibentuk demi mengekang pemikiran kritis mahasiswa maka perlu ditanyakan apakah dia hidup dalam lingkungan kampus atau bahkan hidup dalam lingkungan birokrasi. Maka penulis katakan kembali bahwa mahasiswa punya tanggung jawab sosial yang sangat besar diketahui bahwa mahasiswa mengendalikan bagaimana arah negara itu berhalu ini di perjelas dalam buku (manifesto wacana kiri, karangan kristeva). "Bahwa kendali sosial, politik, ekonomi suatu negara terletak pada bagaimana sikap keperibadian pemudadan mahasiswanya " ini pun diperjelas oleh AMINUDDIN MA'RUF mantan ketua umum PB. aktivis pergerakan mahasiswa islam indonesia (PMII) yang mulai pada masa kepemimpinanya beliau menjadi penentu bagaimana arah negara indonesia yang diterpa oleh persoalan ideologi ideologi yang akan memperpecah kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang mana beliau katakan bahwa "pemuda dan mahasiswa terlebih aktivis PMII mulai dari PB, sampai kepada kader kader didaerah harus kembali kepada kampus, masjid, dan pesantren atau masyarakat" Dengan tujuan mengabdi kepada masyarakat itulah esensi mahasiswa banyak banyak memberi bukan perbanyak meminta dan dilayani jika memang dalam diri mahasiswa masih terdapat sikap dan kepribadian yang kritis yang kemudian akan melahirkan gerakan mahasiswa sebagai representatif masyarakat. Fakta sejarah bukti kongkrit yang harus dipahami kemudian dengan adanya semangat perlawanan dari mahasiswa untuk memperjuangkan hak hak rakyat, 1945 merupakan gerakan kemerdekaan yang dipelopori oleh golongan tua dan golongan muda yang mana basis dari mereka adalah pemuda pemuda yang terdidik yang sudah cukup menimba keilmuan baik secara kuantitas dan kualitas, sehingga pemikiran dan hatinya terpanggil dalam sebuah bahasa MENGABDI bukan hanya dalam bentuk kuliah kerja nyata KKN atau PKL itu yang kemudian diasumsi oleh mahasiswa hari ini sebagai bentuk dari pengabdian kepada masyarakat. Tapi dalam hal lain yang bisa jadi representasi dalam memahami pengabdian masih terlalu dangkal bukankah pengabdian masyarakat merupakan bentuk pengejawantahan dari tri dharma perguruan tinggi.
PENINDASAN YANG TERSETRUKTUR
Kampus pada dasarnya sebagai lembaga pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, namun ketika kampus berubah wajah menjadi menakutkan tak ada bedanya dengan masa keganasan orde baru, kampus cemara yang dikenal sebagai kampus terbaik 1 dimadura yang orientasinya pada mencetak cendikiawan madura. Itulah pemahaman publik bagi kampus cemara, namun ketika dihadapkan dengan realitas yang terjadi dilapangan kehidupan kampus, budaya dan sikap elemen kampus yang mencederai hakikat pendidikan. Ketika mahasiswa sudah disibukkan dengan tugas yang arahnya pada persoalan formalitas, kemudian kesewenangan dosen dalam bekerja sikap mengentengkan pekerjaan menjadi dampak terhadap pola pembelajaran yang tidak efektif. Maka jangan salahkan seorang mahasiswa ketika dia keluar menjadi alumni menjadi produk kampus yang gagal, dalam menerapkan ilmu ilmunya dimasyarakat, pola pembelajaran yang tidak berorientasi pada pengembagan keilmuan dan nalar kritis mahasiswa, inilah sikap dan karakter kampus yang tidak bijak dan dewasa dalam membangun mengembangkan intelektual mahasiswa maka penulis katakan ketika keadaan sudah begini maka tinggal tunggu waktu kapan lembaga tersebut mati suri.
by : Abd Mahmud, NG (mahasiswa FISIPOL Universitas Wiraraja Sumenep)